Sharing Session Wajib Belajar 1 Tahun Pra-Sekolah Bersama Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan, Ini Kata Kabid Paud Disdikpora Kampar

Jejak18news.com – Dalam upaya menyinergikan implementasi kebijakan wajib belajar satu tahun pra-sekolah, Pokja Bunda PAUD Kabupaten Kampar berkolaborasi dengan Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan menyelenggarakan sharing session melalui Zoom Meeting.

Kegiatan yang digelar pada Selasa (14/10/2025), mengusung pemanfaatan kearifan lokal dalam pelaksanaan wajib belajar pra-sekolah ini diikuti secara antusias oleh 161 peserta yang terdiri dari guru, kepala TK, dan perwakilan orang tua dari ketiga kabupaten.

Acara yang dimoderatori oleh Assoc. Prof. Dr. Molli Wahyuni, S.Si., M.Pd. ini dibuka dengan pemaparan dari Taufiq Wahyudisyah, S.Pd., M.Si, selaku Kabid PAUD Disdikpora Kabupaten Kampar dan Ketua Pokja Bunda PAUD Kabupaten Kampar.

Dalam paparannya, Taufiq menekankan pentingnya mengintegrasikan kearifan lokal dalam kurikulum pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai budaya sejak dini.

“Kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, mulai dari cerita rakyat, permainan tradisional, hingga lagu daerah yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran yang menyenangkan bagi anak,” ujarnya.

“Dengan memanfaatkan kearifan lokal, anak-anak justru lebih antusias belajar karena merasakan langsung kaitan antara materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari,” tambah Kabid Paud.

Selanjutnya, Ny. Akna Juita Bustami, Ketua Pokja Bunda PAUD Kabupaten Bengkalis, berbagi pengalaman tentang strategi melibatkan masyarakat dalam program wajib belajar pra-sekolah. Ia mencontohkan bagaimana dongeng dan permainan tradisional setempat berhasil menarik minat anak untuk bersekolah.

“Dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian anak, budaya lokal yang kami miliki proses belajar menjadi lebih bermakna,” jelasnya.

Sementara itu, Fenjli Harmasni, M.Pd., Kabid PAUD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pelalawan, memaparkan inovasi pembelajaran berbasis kearifan lokal yang telah diterapkan di daerahnya.

“Termasuk penggunaan alat permainan edukatif dari bahan alam dan pengenalan kuliner tradisional sebagai bagian dari muatan lokal,” tandasnya.

Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus bersinergi, saling mendukung, dan mengoptimalkan potensi lokal masing-masing daerah guna memastikan program wajib belajar satu tahun pra-sekolah dapat diakses dan bermanfaat bagi seluruh anak, tanpa terkecuali.

Melalui kolaborasi semacam ini, diharapkan pendidikan anak usia dini di Riau semakin maju dan berakar pada budaya lokal. (Advertorial)

Pos terkait